Pengertian tentang apa itu Resilience :
Shatte dan Reivich (2002) menyebutkan bahwa resilience adalah kemampuan untuk berespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi rintangan atau trauma. Menurut Papalia,olds dan Feldman (2003) resilience adalah sikap ulet dan tahan banting yang dimiliki seseorang ketika dihadapkan dengan keadaan yang sulit.
Menurut Grotberg (1999) resilience adalah kemampuan manusia untuk menghadapi, mengatasi, menjadi kuat ketika menghadapi rintangan dan hambatan.Resilience bukan merupakan suatu keajaiban, tidak hanya ditemukan pada sebagian manusia dan bukan merupakan sesuatu yang berasal dari sumber yang tidak jelas. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjadi resilience dan setiap orang mampu untuk belajar bagaimana menghadapi rintangan dan hambatan dalam hidupnya. Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa resilience adalah kemampuan manusia untuk menghadapi dan mengatasi rintangan, hambatan dan kesulitan dalam hidup sehingga individu tersebut menjadi lebih kuat.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resilience :
Grotberg (2004) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi resilience pada seseorang yaitu :
a. Temperamen
Temperamen mempengaruhi bagaimana seorang individu bereaksi terhadap rangsangan . Apakah seseorang tersebut bereaksi dengan sangat cepat atau sangat lambat terhadap rangsangan ?. Temperamen dasar seseorang mempengaruhi bagaimana individu menjadi seorang pengambil resiko atau menjdi individu yang lebih berhati-hati.
b. Intelegensi
Banyak penelitian membuktikan bahwa intelegensi rata-rata atau rata-rata bawah lebih penting dalam kemampuan resilience seseorang. Namun penelitian yang dilakukan oleh Grotberg (1999) membuktikan bahwa kemampuan resilience tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor melainkan ditentukan oleh banyak faktor.
c. Budaya
Perbedaan budaya merupakan faktor yang membatasi dinamika yang berbeda dalam mempromosikan resilience.
d. Usia
Usia anak mempengaruhi dalam kemampuan resilience. Anak-anak yang lebih muda (dibawah delapan tahun) lebih tergantung pada sumber-sumber dari luar ( the “I Have “ factor). Anak-anak yang lebih tua (delapan tahukeatas) lebih bergantung pada kemampuan dalam dirinya ( the “I Can”
factor
e. Gender
Perbedaan gender mempengaruhi dalam perkembangan resilience. Anak perempuan lebih pada kemampuan mencari bantuan, berbagi perasaan dan lebih sensitif pada orang lain. Anak laki-laki lebih pragmatik, berfokus pada masalah dan hasil dari tindakan yang mereka lakukan.
Kemampuan-kemampuan Dasar Resilience
Shatte dan Reivich (2002) mengemukakan beberapa kemampuan yang bisa mengungkap kemampuan resilience pada individu yaitu :
1. Emotion Regulation
Merupakan kemampuan untuk tetap tenang ketika berada di bawah tekanan. Individu yang resilient menggunakan kemampuan pengaturan emosi agar bisa mengontrol emosi, perhatian dan perilaku mereka. Selfregulation sangat penting untuk membentuk hubungan yang intim, berhasil di tempat kerja dan memiliki fisik yang sehat. Sebaliknya, individu yang tidak dapat mengontrol emosi maka mereka sering merasa kelelahan secara emosional dan menunjukkan ketidakmampuan untuk mengatur emosi dan tidak mampu untuk membina hubungan dengan orang lain.
2. Impulse Control
Impulse Control adalah kemampuan untuk mengendalikan mengendalikan dorongan-dorongan primitif yang ada dalam diri individu dan lebih Universitas Sumatera Utaramengutamakan pikiran-pikiran yang rasional. Ketidakamampuan untuk menahan dorongan-dorongan bisa melibatkan pemikiran dan tindakan yang salah.
3. Optimisme
Individu yang resilient adalah individu yang optimis. Mereka percaya bahwa segala sesuatu bisa berubah menjadi lebih baik. Mereka memiliki harapan untuk masa depan dan percaya bahwa mereka bisa mengatur kehidupan mereka. Bila dibandingkan dengan individu yang pesimis, orang-orang yang optimis secara fisik lebih sehat, tidak mudah mengalami depresi dan lebih produktif di tempat kerja. Optimisme adalah suatu keyakinan bahwa setiap bisa diatasi.
4. Causal Analysis
Causal Analysis adalah kemampuan seseorang untuk mengenali penyebab dari masalah yang dialami. Jika individu tidak dapat menilai penyebab dari setiap masalah yang mereka alami dengan baik, maka ia akan terperosok untuk membuat kesalahan.
5. Empati
Empati adalah kemampuan untuk membaca keadaan emosi dan psikologis seseorang. Beberapa inidividu mampu membaca melalui isyarat non verbal seperti ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh untuk membaca pikiran dan persaan orang lain. Universitas Sumatera Utara6. Self-efficacy Self-efficacy adalah kemampuan yang menunjukkan bahwa seseorang bisa memecahkan masalah yang dialami demi mencapai kesuksesan.
6. Reaching Out
Reaching Out adalah kemampuan untuk bertemu dengan orang-orang baru, mencoba hal-hal baru, berani melakukan kegiatan yang membutuhkan keberanian dan kekuatan dari dalam diri
7. Self-efficacy
Self-efficacy adalah kemampuan yang menunjukkan bahwa seseorang bisa memecahkan masalah yang dialami demi mencapai kesuksesan.
Karakteristik dari anak-anak dan remaja yang resilient Masten dan Coatswoth (dalam Papalia, old dan Feldman ) beberapa karakteristik dari anak-anak dan remaja yang resilient yaitu :
1. Individu
Sumber yang berasal dari individu adalah memiliki fungi intelktual yang baik, penuh pertimbangan, sociable, memiliki watak yang easy going, memiliki self efficacy, self confidence, dan harga diri yang tinggi, berbakat dan beragama.
2. Keluarga
Sumber yang berasal dari keluarga adalah memiliki hubungan keluarga yang harmonis, gaya pengasuhan yang authoritative, dan memiliki hubungan dengan orang lain di luar keluarga.
3. Lingkungan di luar keluarga
Terlibat dalam kegiatan-kegiatan di luar rumah, dan didukung sekolah yang efektif.
sumber : http://repository.usu.ac.id