Sabtu, 06 Juli 2013

Character Building :Pengertian Tentang Resilience

Baiklah teman teman sekalian di dalam topik  ini  kita akan membahas tentang apa itu Resilience disimpulkan bahwa daya tahan seseorang itu dapat dilatih dan dikembangkan.

Pengertian tentang apa itu Resilience :

Shatte dan Reivich (2002) menyebutkan bahwa resilience adalah kemampuan  untuk berespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi rintangan atau  trauma. Menurut Papalia,olds dan Feldman (2003) resilience adalah sikap ulet dan  tahan banting yang dimiliki seseorang ketika dihadapkan dengan keadaan yang  sulit. 
Menurut Grotberg (1999) resilience adalah kemampuan manusia untuk  menghadapi, mengatasi, menjadi kuat ketika menghadapi rintangan dan  hambatan.Resilience bukan merupakan suatu keajaiban, tidak hanya ditemukan  pada sebagian manusia dan bukan merupakan sesuatu yang berasal dari sumber  yang tidak jelas. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjadi resilience dan setiap orang mampu untuk belajar bagaimana menghadapi rintangan dan  hambatan dalam hidupnya.  Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa resilience adalah kemampuan manusia untuk menghadapi dan mengatasi rintangan,  hambatan dan kesulitan dalam hidup sehingga individu tersebut menjadi lebih  kuat. 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resilience :
Grotberg (2004) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi  resilience pada seseorang yaitu : 
a. Temperamen 
Temperamen mempengaruhi bagaimana seorang individu bereaksi  terhadap rangsangan . Apakah seseorang tersebut bereaksi dengan sangat  cepat atau sangat lambat terhadap rangsangan ?. Temperamen dasar  seseorang mempengaruhi bagaimana individu menjadi seorang pengambil  resiko atau menjdi individu yang lebih berhati-hati. 
b. Intelegensi 
Banyak penelitian membuktikan bahwa intelegensi rata-rata atau rata-rata  bawah lebih penting dalam kemampuan resilience seseorang. Namun  penelitian yang dilakukan oleh Grotberg (1999) membuktikan bahwa  kemampuan resilience tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor melainkan  ditentukan oleh banyak faktor. 
c. Budaya 
Perbedaan budaya merupakan faktor yang membatasi dinamika yang  berbeda dalam mempromosikan resilience. 
d. Usia 
Usia anak mempengaruhi dalam kemampuan resilience. Anak-anak yang  lebih muda (dibawah delapan tahun) lebih tergantung pada sumber-sumber  dari luar ( the “I Have “ factor). Anak-anak yang lebih tua (delapan tahukeatas) lebih bergantung pada kemampuan dalam dirinya ( the “I Can” 
factor
e. Gender 
Perbedaan gender mempengaruhi dalam perkembangan resilience. Anak  perempuan lebih pada kemampuan mencari bantuan, berbagi perasaan dan  lebih sensitif pada orang lain. Anak laki-laki lebih pragmatik, berfokus  pada masalah dan hasil dari tindakan yang mereka lakukan.

Kemampuan-kemampuan Dasar Resilience 

Shatte dan Reivich (2002) mengemukakan beberapa kemampuan yang bisa  mengungkap kemampuan resilience pada individu yaitu : 
1. Emotion Regulation 
Merupakan kemampuan untuk tetap tenang ketika berada di bawah  tekanan. Individu yang resilient menggunakan kemampuan pengaturan  emosi agar bisa mengontrol emosi, perhatian dan perilaku mereka. Selfregulation sangat penting untuk membentuk hubungan yang intim,  berhasil di tempat kerja dan memiliki fisik yang sehat. Sebaliknya,  individu yang tidak dapat mengontrol emosi maka mereka sering merasa  kelelahan secara emosional dan menunjukkan ketidakmampuan untuk  mengatur emosi dan tidak mampu untuk membina hubungan dengan orang  lain. 

2. Impulse Control 

Impulse Control adalah kemampuan untuk mengendalikan mengendalikan  dorongan-dorongan primitif yang ada dalam diri individu dan lebih  Universitas Sumatera Utaramengutamakan pikiran-pikiran yang rasional. Ketidakamampuan untuk  menahan dorongan-dorongan bisa melibatkan pemikiran dan tindakan  yang salah. 

3. Optimisme 

Individu yang resilient adalah individu yang optimis. Mereka percaya  bahwa segala sesuatu bisa berubah menjadi lebih baik. Mereka memiliki  harapan untuk masa depan dan percaya bahwa mereka bisa mengatur  kehidupan mereka. Bila dibandingkan dengan individu yang pesimis,  orang-orang yang optimis secara fisik lebih sehat, tidak mudah mengalami  depresi dan lebih produktif di tempat kerja. Optimisme adalah suatu  keyakinan bahwa setiap bisa diatasi. 

4. Causal Analysis

Causal Analysis adalah kemampuan seseorang untuk mengenali penyebab  dari masalah yang dialami. Jika individu tidak dapat menilai penyebab dari  setiap masalah yang mereka alami dengan baik, maka ia akan terperosok  untuk membuat kesalahan. 

5. Empati 

Empati adalah kemampuan untuk membaca keadaan emosi dan psikologis  seseorang. Beberapa inidividu mampu membaca melalui isyarat non verbal  seperti ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh untuk membaca  pikiran dan persaan orang lain.  Universitas Sumatera Utara6. Self-efficacy  Self-efficacy adalah kemampuan yang menunjukkan bahwa seseorang bisa  memecahkan masalah yang dialami demi mencapai kesuksesan. 

6. Reaching Out 

Reaching Out adalah kemampuan untuk bertemu dengan orang-orang  baru, mencoba hal-hal baru, berani melakukan kegiatan yang  membutuhkan keberanian dan kekuatan dari dalam diri

7. Self-efficacy 

Self-efficacy adalah kemampuan yang menunjukkan bahwa seseorang bisa  memecahkan masalah yang dialami demi mencapai kesuksesan. 

Karakteristik dari anak-anak dan remaja yang resilient  Masten dan Coatswoth (dalam Papalia, old dan Feldman ) beberapa karakteristik  dari anak-anak dan remaja yang resilient yaitu : 
1. Individu 
Sumber yang berasal dari individu adalah memiliki fungi intelktual yang baik,  penuh pertimbangan, sociable, memiliki watak yang easy going, memiliki self  efficacy, self confidence, dan harga diri yang tinggi, berbakat dan beragama. 
2. Keluarga 
Sumber yang berasal dari keluarga adalah memiliki hubungan keluarga yang  harmonis, gaya pengasuhan yang authoritative, dan memiliki hubungan  dengan orang lain di luar keluarga. 
3. Lingkungan di luar keluarga 
Terlibat dalam kegiatan-kegiatan di luar rumah, dan didukung sekolah yang  efektif. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar